Narsismu Bukan Eksismu


Penulis
Naila Rihad

Sinopsis
Pernah nggak mengalami perbedaan prestasi di antara orang-orang sekeliling kita, sehingga ingin melakukan sesuatu yang membuat orang lain takjub dan mengakui kita sebagai orang yang berjasa dan hebat?
Pernah melakukan dua aktivitas atau lebih dalam satu waktu sekaligus karena berharap orang lain melihat diri kita tanpa memprioritaskan kesibukan kita?
Sudah semestinya bahwa prioritas itu sangatlah dibutuhkan, terutama prioritas untuk bahagia.
Atau..,
malah nggak butuh prioritas? Hmm.
Pernah merasa minder dengan orang-orang di sekelilingmu, sehingga ingin menjadi sepertinya atau bahkan melampauinya?
Terkadang, hal tersebut yang membuat kita memiliki ambisi ingin terkenal. Ketika hal itu muncul dan sangat ambisius, kita tidak ingin meninggalkan aktivitas tersebut. Mendadak hati pun akan berkata, “Pokoknya harus, kudu, mesti sampai beress!”. Alhasil, kita pun bisa kewalahan, karena menginginkan hasil dari tujuan kita yang harus sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apa harus begitu?
Memprioritaskan suatu hal bukanlah penghalang untuk melakukan sesuatu yang lainnya. Kebanyakan di zaman now ini kalau sesuatu yang kita kerjakan sudah mau kelar, biasanya panggilan apapun ditinggal, termasuk adzan, iqomah, bahkan sholat pun dinomorduakan.
“Ah, bentar lagi kelar. Sholat mah nanti saja, gampang!”,
Atau misalkan nih,
Ketika maghrib sudah waktunya untuk sholat, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain, kita masih sibuk sama aktivitas kita yang nggak mungkin ditinggal, atau asyik membicarakan sesuatu yang bahkan tidak bermanfaat sama sekali. Hmm.
“Gampang! Kelarin dulu sajaa“, atau “nanti saja itu mah, yang penting ini dulu, dah!”
Banyak sekali anak muda yang lebih mementingkan urgensi dalam sebuah acara, aktivitas, deadline, hiburan, bahkan worship-nya sekalipun, sehingga di mana-mana ketika kita menapaki puncak yang tidak biasanya, kita menemukan sebuah penemuan yang tidak asing lagi.  Banyak sekali ditemukan yang cekrek-sana-cekrek-sini. Kalau ditanya ya alasannya juga ya cekrek-sana-cekrek-sini, kenapa? Ya biar pada tahu, nge-tren, terkenal, banyak like, followers, comment, dan berbagai alasan lainnya.
Ketika upload yang tidak terlalu penting, kemudian ada yang memberi teguran, dijawabnya, “Yahh, hanya bersenang-senang,”.
Ketika upload status live aktivitas yang bermanfaat seperti sedang thowaf di tanah suci, ada yang memberi komentar bermaksud meluruskan, dijawab, “Eh, nggak ko’ tujuannya baik.” atau bahkan sampai ada yang mengapresiasi (memberikan pujian), dijawab dengan riang gembira, “Alhamdulillah, terima kasih banyak. Memang selalu ada jalan untuk saya, sob”.
Hmm, tapi..
Yakin yang kamu lakukan itu baik? Yakin yang memberi jalan itu Allah?
Terkadang, sesuatu yang kita anggap baik, hampir semua kita anggap ringan meskipun langkah kaki kita berat. Intinya, enjoy saja bawa santai. Namun, ketika kita menganggapnya lebih mudah, kita terkadang lupa dengan tujuan awal kita. Kita memiliki beribu alasan terkait aktivitas yang bersangkutan, dan seiring dengan berjalannya waktu yang kita miliki pun akhirnya terbengkalai. Pastinya, semua itu berasal dari tujuan awal yang akan kita lakukan. Hanya saja ada yang membedakan, apa itu?
Sebenarnya, apa sih tujuan dibalik semua aktivitas kita? Sudah seiring kah dengan apa yang kita lakukan? Haruskah menjadi terkenal untuk dikenal? Ada nggak sih hal-hal yang membahayakan? Apakah yang dilihat memberikan manfaat atau malah sebaliknya?
Hmm.
Mau tahu jawabannya?
Yuk! Disimak baik-baik dalam buku ini, hehe.

CV. Antero Literasi Indonesia
Penerbit Anlitera
www.ANLITERA.id | www.ANLITERA.co.id
+6282-3388-5-2322 (whatsapp)

-------
Penghargaan Penerbit Terbaik 2018
oleh PNRI Regional Jawa Timur
No. 041/847/119.2/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(+62) 82 337744 344

whatsapp (chat only)